Mewujudkan Cendekiawan Muda dalam Gerakan Merah yang Berkarakter

Cendikiawan ialah orang yang karena pendidikannya, baik formal, informal, maupun non formal, mempunyai perilaku cendikia. Kecendikiaan ini tercermin dalam kemampuannya menatap, menafsirkan dan merespons lingkungan hidupnya dengan sifat dan sikap kritis, kreatif, objektif, analitis dan bertanggung jawab. Karena sifat dan sikap tersebut, cendikiawan mempunyai wawasan dan pandangan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kata cendekiawan dalam Al-Qur’an yang disebut Ulul albab adalah perwujudan aktifitas akal dan hati. Akallah yang telah membuktikan kebenaran Islam dan setelah terbukti hati akan meyakini, selanjutnya mendorong setiap muslim yang memahami dan meyakininya untuk bergerak, menjadi agen-agen perubah di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaary, dramawan Malaysia terkenal, mengatakan bahwa hakikatnya tidak semudah itu. Ia berkata:

     “Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan. Seorang cendekiawan adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat.”

Seiring  perkembangan  zaman di era globalisasi saat ini turut mengiringi adanya trend yang semakin dinamis dan selalu diwarnai oleh ketidakteraturan dan ketidakpastian. Kondisi ini memunculkan kecenderungan permasalahan baru yang semakin beragam dan multi dimensional. Teknologi informasi yang berkembang cepat,telah membawa dampak bagi kehidupan manusia. Dapat berdampak  menguntungkan  dan merugikan ,berdampak menguntungkan apabila mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup. Namun juga dapat berdampak merugikan, apabila terperdaya dengan pemanfaatan untuk kepentingan yang negatif. Hal ini berarti dampak teknologi informasi berimplikasi secara langsung pada perubahan berbagai aspek kehidupan, termasuk terhadap karakter generasi muda.

Sesungguhnya pendidikan karakter sudah lama didengungkan oleh IMM, sebagaimana motto IMM “anggun dalam moral unggul dalam intelektual”. Akan tetapi dalam aplikasi pelaksanaan masih jauh panggang dari api.

Banyak kader-kader IMM saat ini yang merasa benar dijalan yang sesat, yang terlena dengan jabatan duniawi, yang terlena dengan harta duniawi, yang menjadikan IMM hanya untuk popularitas duniawi, dll.  Untuk itu IMM harus bisa membenahi sistem pengkaderannya sehingga IMM dimasa depan akan dapat melahirkan tokoh-tokoh yang tidak menokoh, dan melahirkan tokoh yang berakhlak serta istiqomah dalam perjuangan Ikatan. Sesungguhnya yang lumpuh di IMM saat ini adalah hati nurani dan akal sehat. Oleh karena itu ini harus menjadi cambuk bagi IMM untuk dapat membina kadernya agar punya hati nurani, punya akhlak dan moral yang baik serta memiliki intelektual yang cerdas.  Jawabanya adalah benahi pengkaderan IMM.

Reported by :

Abu To’at  Pendidikan Kimia 2015 FMIPA

Pimpinan Komisariat  IMM MIPA